Rabu, 08 Oktober 2008

Movie Review: The Mist


Satu temen gue ngirim SMS di suatu tengah malam buta. SMS itu cuman berisi beberapa kata aja. “Harus nonton: The Mist!” Gitu aja. Yah, gue ga terlalu peduli sih, malem itu. Jadi, gue tidur lagi aja sampe pagi berikutnya. Tapi, dia – temen gue itu, tiba2 nanya di laen hari. “Udah nonton belum?” Dan, gue jawab, “Nonton apa?”

Gue mungkin idiot. Pelupa. Bodoh karena kesalahan kecil. Tapi yah, gue inget juga. Ada sebuah film yang lagi diputer di bioskop deket rumah. Dan, judulnya The Mist. Aneh, judulnya sama kaya’ yang dibilangin sama temen gue. Anyway, akhirnya gue putusin buat nonton juga akhirnya.

Film yang dirilis akhir 2007 ini, The Mist ngasih thriller yang ngejutin orang2 yang nonton. Seperti kebiasaan dari Stephen King, ga heran kalo film ini bener2 ngejutin dan cerita yang dinamis. Settingnya di sebuah lingkungan pinggiran kota, film ini ngasih pesen untuk penontonnya lewat cara yang beda.

Karakter utamanya – David, seorang pelukis. Dia lagi nyelesein satu kerjaan, waktu sebuah pohon ngancurin rumahnya tepat di lukisan yang belum selesai itu. Semuanya gara-gara badai, sih. Tapi, itu bukan sembarang badai. Itu badai pertanda. Pertanda sebuah kehancuran.

David dan anaknya pergi ke tengah kota buat beli beberapa barang di toko kelontong. Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Entah dari mana, dateng kabut itu. Dan, bersama kabut itu, banyak orang2 yang hilang dan teriak-teriak. Sebuah adegan yang menggetarkan. Dan, beberapa orang pun terjebak di dalam toko kelontong.

Kemudian terjadi beberapa hal yang ga masuk akal. Diawali dengan suara2 aneh dari belakang toko – yang kemudian berubah menjadi sebuah monster dan ngemangsa seorang anak muda, hingga banyaknya kumbang2 yang nyerang toko kelontong. Banyak orang tewas karena ketidaktahuan mereka. Dan, orang2 pun akhirnya lebih banyak marah2 sambil ngutuk. Meski beberapa orang nyoba keluar dan cari bantuan, tapi ga seorang pun selamet. Hingga seorang ibu2 jadi patron yang dipercaya sama orang2, tapi akhirnya justru ditembak mati soalnya ngganggu banget.

Banyak darah, pengkhianatan, kemarahan, dan keputusasaan di dalem film ini. Tanpa ngebaca naskah aslinya – yang diadaptasi dari buku (mungkin sih), gue tau kok kalo film ini bagus dan menarik. Dalam skala 10, gue kasih nilai 9. yah, gue kasih 9, soale film ini banyak darah dan lukaluka. Tapi, kalo ga salah sih, filmnya dikasih rating PG13. Dan, hal yang paling gue suka dari film ini tuh, endingnya. Dengan hanya tersisa 4 peluru di dalem pistol, dan 5 orang yang berhasil keluar dari toko dan lari dengan mobil, David mutusin buat ngebunuh satu persatu penumpang mobilnya. Dia putus asa karena ga bisa nyelametin semuanya, termasuk istrinya.

4 suara tembakan kedenger sebelum akhirnya David keluar dari mobil. Dia sebenernya, coba bunuh diri, tapi ga bisa. Dia nyesel karena udah ngebunuh semua penumpang mobilnya. Jadi, dia keluar dan nunggu monsternya. Tapi, justru ga ada monster. Yang ada justru para tentara yang nyelametin mereka.

Sebuah ironi sekali film ini. Dan pastinya, ini ciri khas dari Stephen King yang bikin banyak cerita yang pembacanya ga pernah bisa nebak2 sampe itu semua abis.

Tidak ada komentar:

info lowongan kerja terbaru - kerja di rumah

Confidential's Reviews